Kamis, 29 November 2018

Berkeliling Pasaman Barat


Kamis 15 November 2018, rencana perjalanan saya hari ini adalah menyinggahi tempat-tempat di kabupaten Pasaman Barat dan Pasaman Timur. Kenapa Pasaman? Karena Pasaman adalah daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Awalnya saya berencana untuk berkeliling Pasaman selama dua hari sebab perjalanan ini cukup jauh dan lama. Namun dikarenakan hujan yang tak henti-henti selama seminggu terakhir akhirnya saya urung berangkat dihari pertama, tinggallah satu hari waktu yang tersisa.

Rute panjang yang saya rencanakan adalah berangkat dari kota Padang terus ke Pariaman, Tiku, Kinali, Sasak, Maligi, Sikilang, Aia Bangih, Ujung Gading, Simpang Ampek, Talu, Panti, Lb. Sikapiang, Bonjol dan berakhir di kota Bukittinggi. Karenanya pagi dini hari sekitar jam 03:30 saya sudah keluar rumah dan perjalanan pun saya mulai. 

Satu jam kemudian saya sudah sampai di kota Pariaman, azan subuh belum terdengar dan setelah sampai di daerah Sungai Limau barulah saya berhenti disebuah Mesjid, dan selesai subuh perjalanan saya lanjutkan. Mata saya mulai risau memperhatikan amper minyak yang sudah mulai melewati garis merah. Sebelumya ada satu SPBU 24 jam yang sengaja saya lewatkan kerena petugasnya lagi bobok disamping dispenser minyaknya, kerena gak mau membangunkan macan tidur saya pun terus lanjut. Sesampainya di dearah Tiku saya belum juga menemukan SPBU lainnya, disini saya tidak berani lagi untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya mondar mandir seperti maling anak yang lagi mengintai mangsa menunggu penjual minyak ketengan membuka pintu warungnya.

Syukur tidak begitu lama akhirnya bahan bakar saya dapatkan dan pedal gas pun kembali saya putar. Sesampai dipertigaan manggopoh saya sempatkan berhenti sebentar dan mengheningkan cipta sesaat didepan patung Siti Manggopoh yang berada dipinggir jalan sembari mengenang sejarah perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda. Jam ditangan sudah menunjukkan pukul enam pagi, dari sini saya berbelok ke kiri tentu saja menuju kearah kabupaten Pasaman Barat.




Lebih dari satu jam saya sampai di Kinali, dan tidak beberapa jauh kedepan saya kembali berhenti disebuah tugu yang tidak begitu dianggap, namun secara pribadi bagi saya itu tugu yang cukup spesifik, karena hanya ada dibeberapa tempat saja di Indonesia. Itu adalah tugu penanda batas antara bumi belahan utara dengan bumi belahan selatan, yaitunya tugu Equator/Khatulistiwa Kinali. Dari sini saya mulai aktifkan GPS, karena tujuan saya berikutnya adalah nagari Sasak Ranah Pasisie, dengan melewati jalan kecamatan yang kemungkinan banyak persimpangannya sebab dari Kinali ke Sasak tidak perlu melewati kota Simpang Ampek karena hanya buang waktu keatas dan balik lagi kebawah.

"Siap Boss...!" Itulah kata yang selalu saya ucapkan setiap kaki telinga saya mendengar suara pemandu wanita dari speaker handfree yang mengarahkan saya untuk mengikuti arahnya. Saya tidak melihat map karena handphone berada didalam saku jaket. Jalan semen, berbatu, melewati jembatan goyang diatas sungai ikan larangan dan akhirnya saya terhenti karena buntu di depan ladang jagung masyarakat. Kampret juga ni si Boss, kemana lagi ni...! Ucap saya kesal. Saya mulai mengamati mapping dan tidak mau lagi sepenuhnya mengikuti arahan GPS. Memang untuk jalur-jalur perkampungan rute GPS sering kali tidak akurat dan itu beberapa kali saya buktikan menjelang saya sampai di nagari Sasak.

Sasak adalah nama yang sudah lama saya dengar selama ini, walau sudah eksis sejak lama namun pembangunan boleh dikatakan belum menyentuh daerah ini. Perkampungannya masih layaknya perkampungan khas nelayan biasanya. Namun untuk wisata pantainya Sasak memiliki dua pantai yang indah. Pertama pantai Seribu Pohon, dimana garis pantai sepanjang beberapa kilometer ditanami rapi dengan deretan pohon pinus yang menyejukkan mata. Dan kedua pantai Muaro Sasak. Sesuai namanya dipantai ini bermuara sebuah sungai yang cukup besar dengan pinggirannya yang disusun batu-batu sungai yang besar seperti batu-batu pemecah ombak di pantai-pantai lainnya.









Selesai berkeliling dan menyusuri garis pantai Seribu Pohon serta Muaro Sasak yang cukup panjang saya berhenti disebuah tugu lagi, tugu yang juga mirip tugu equator juga. Sasak adalah daerah yang juga dilalui garis khatulistiwa, namun saya tidak bisa memastikan itu adalah tugu equator. Pada tugu terdapat bola dunia lengkap dengan peta Indonesia dan sebuah kapal layar diatasnya, untuk sementara ini identik dengan tugu equator namun pada bagian bawahnya tertulis kalimat dalam bahasa sanskerta yang berbunyi "Sasak Rancak Tacelak". Tidak mau pusing dengan tugu apa, waktu sudah lewat pukul sembilan pagi dan lambung saya telah mengeluarkan zat asam yang banyak, lalu saya pun mulai mencari susuatu untuk digiling. Walau terdapat banyak warung makan minum disepanjang pantai namun sepertinya tidak ada seorang pun pengunjung dipagi ini kecuali saya sendiri yang rana-rene mirip sales obat kurap. Karena tidak berniat duduk dipinggir pantai akhirnya saya menemukan warung didepan gerbang masuk di sebuah Sekolah Dasar, dan disinilah pencarian saya berakhir.

Selesai sarapan ala bocah, lontong bakwan plus air mineral, Rp 6000,- sajaa... Dengan mengikuti petunjuk ibu warung yang sangat pemurah dan baik hati itu, saya membawa motor menyusuri jalan kecil berbatu yang terkadang digenangi air saya mencari jalan menuju desa Maligi. Sempat berkeliling kampung sebentar akhirnya saya menemukan sebuah jembatan besar menyeberangi sungai dan saya pun yakin sudah berada di jalan yang benar, jalan lintas Sasak-Maligi. Sasak ke Maligi hanya berjarak kurang lebih 15 km, dihubungkan dengan jalan setapak mengikuti garis pantai dengan waktu tempuh kurang dari 60 menit dengan dua kali menyeberangi muara menggunakan penyeberangan yang sederhana, tentu saja hanya sepeda motor yang bisa melalui jalan ini. 

Lepas dari jembatan besar pemandangan mulai berubah. Padang rumput hijau terhampar luas, pohon pinus dan pohon-pohon pinggir laut lain tumbuh satu- satu menghiasi padang savana yang rata dengan sisi sebelah laut berbentuk garis lurus. Beberapa genangan air membentuk telaga-telaga yang indah. Jalan setapak yang panjang membelah padang. Suara deburan ombak dari bibir samudera terus mengiringi perjalanan berbaur dengan desiran angin laut dan angin padang, sesekali suara kicauan burung membuat kita dapat merasakan dan menikmati suasana yang berbeda. Tiap sebentar keindahan alam menghentikan perjalanan saya, turun dari sepeda motor mengagumi keindahan ciptaan Tuhan dan tak lama merogoh saku mengambil handphone untuk mengabadikan pemandangan-pemandangan itu sebagai oleh-oleh pulang. Kurang puas dengan itu sebuah monocular pun saya gunakan agar dapat melihat lebih jauh.












Tanpa terasa perjalanan menuju desa Maligi sudah memakan cukup banyak waktu, lalu sampailah saya ditempat yang sepintas terlihat seperti muara. Tapi sepertinya bukanlah sebuah muara sungai, melainkan bibir telaga-telaga panjang yang menyambung ke laut, kemungkinan saat surut air disini mengalir pelan kelaut dan disaat pasang air laut ikuk mengisi telaga ini selain air lainnya disekitarnya. Beberapa sampan kecil hanya cukup satu atau dua motor bolak-balik mengantarkan menyeberang. Dengan meniti sebilah papan saya membawa sepeda motor naik keatas sampan untuk menyeberang. Penyeberangan berjalan sangat lancar, arus air juga tidak begitu deras, dengan ongkos Rp.5000,- sampailah saya diseberang dan perjalanan saya lanjutkan.

Selesai dari penyeberangan pertama pemandangan sekeliling masih menawan seperti sebelumnya, dan sampailah saya dipenyeberangan kedua yang juga sama persis dengan penyeberangan pertama tadi. Selesai menyeberang pemandangan mulai berganti. Kali ini pohon-pohon pinus mendominasi bibir pantai, suasana teduh dan sejuk menggantikan panasnya suhu padang. Disepanjang jalan sudah mulai banyak ditemui ternak-ternak masyarakat, terkadang pantai-pantai disini mirip dengan pantai-pantai diluar negeri sana karena banyak yang berjemur ditepi pantai. Cuma bedanyanya kalau diluar sana yang berjemur itu orang, kalau disini yang berjemur dan jalan-jalan dipinggir pantai itu sapi dan kambing. Tapi ini adalah tanda kalau saya sudah dekat dengan perkampungan. Dan tak lama dominasi pohon-pohon pinus pun mulai digantikan denga pohon kelapa, dari jauh terlihat orang-orang menjemur ikan dibawah teriknya panas matahari, dan sampailah saya di desa Maligi.










Seperti umumnya dearah-daerah pesisir lainnya dimana selalu terdapat muara sebuah sungai, Maligi juga merupakan daerah muara. Muara di Maligi adalah muara yang sangat besar namun terlihat seolah tanpa arus, sehingga menyerupai sebuah danau yang memanjang dan terdapat banyak dasar-dasar muara yang timbul ke permukaan membentuk banyak pulau-pulau. Deretan rumah dan perahu nelayan serta pohon-pohon kelapa yang tinggi menghiasi tepian dengan indah. Sebuah jembatan beton panjang membelah muara menghubungkan desa yang dipisahkan oleh muara tersebut. Disini saya melihat ada mobil, berarti dari sini sudah ada jalan yang cukup lebar untuk bisa dilewati oleh mobil. 

Sebelum menyeberang ke jembatan saya bawa sepeda motor tetap menyusuri tepi laut menuju arah ujung muara. Semakin ke ujung rumput-rumput dan pepohonan semakin sedikit dan akhirnya sampailah saya di hamparan pasir yang luas. Ujung muara masih jauh didepan namun sepeda motor sudah sangat sulit untuk dikendarai diatas pasir lalu saya pun berhenti. Berjalan kaki diatas pasir dibawah teriknya matahari itu sama artinya dengan melintasi gurun Sahara di Afrika Utara sana, akhirnya saya urung ke ujung muara mengingat waktu saya yang tidak banyak.

















Jam ditangan menunjukkan tepat pukul 12 siang. Selepas mengabadikan view-view menarik saya bergegas melanjutkan perjalanan kearah Sikilang. Jarak antara Sikilang ke Maligi jauhnya kira-kira sama dengan jarak Maligi ke Sasak. Jalan yang dilalui sudah bisa dilewati oleh mobil namun kondisinya seperti jalur Rally Dakar. Walau jalannya besar tapi perjalanan saya lebih lambat dari sebelumnya karena jalan tanah ini becek serta banyak genangan air dan lumpur. Beberapa kali saya terperosok didalam genangan air yang dalam dan dengan susah payah mengeluarkan motor dari lobang jalan yang sudah mirip kolam. Namun karena tanpa ada berhenti, kurang dari satu jam sampailah saya di desa Sikilang.

Tidak jauh berbeda antara Sasak dan Maligi, Sikilang juga merupakan perkampungan kecil nelayan namun padat. Seperti biasa saya menuju muara, karena ditempat-tempat seperti ini akan ada view menarik dimuara. Saya kembali berada di jalan setapak di garis pantai. Seorang warga disitu menyebutkan kalau jalan setapak itu menghubungkan Desa Sikilang dengan Maligi dan Sikabau menuju Air Bangis. Mendengar itu ada rasa menyesal kenapa tadi saya harus melalui jalan besar yang banyak lobang dan genangan itu. Sekiranya dari Maligi ke Kilangan saya kembali menyusuri pantai tentu lebih lancar dan banyak hal menarik yang akan saya jumpai. Sebelum sampai dimuara saya berfikir kembali ke desa karena mumpung masih dekat untuk mengisi perut sebelum nanti saya berada ditengah-tengah negara api yang tidak tau apa yang akan terjadi. 

Disebuah musholla kecil saya menjamak sholat lalu singgah disebuah warung kopi, sepertinya tidak ada yang menjual nasi disini, tapi dari pada nanti saya harus praktek survival ala Kopassus lebih baik saya makan makanan yang masih disebut makanan. Pemilik warung menyarankan saya ke Air Bangis supaya tidak menyusuri pinggir laut ke Sikabau, karena jalan kesana jelek. Sebenarnya dalam hati saya keberatan juga menerima saran itu karena dari tadi jalannya juga tidak ada yang bagus, namun karena yang memberi saran orang asli akhirnya saya ikuti juga untuk memutar ke daerah Air Haji dengan melintasi perkebunan sawit yang luas. Rencana ke muara saya batalkan karena saya harus menghemat waktu, jangan sampai nanti ada kendala dalam perjalanan dan saya bisa terkubur di tengah-tengah perkebunan sawit yang sangat luas.

Ini adalah perjalanan yang cukup jauh dan membosankan, jalan tanah perkebunan yang habis diguyur hujan selama musim hujan ini kondisinya tidak perlu lagi dijelaskan. Beberapa kali setiap saya bertemu seseorang langsung saya manfaatkan untuk bertanya, karena saya benar-benar tidak mau nyasar ditempat ini. Ditengah perjalanan terdapat sebuah sungai untuk diseberangi, ini adalah penyeberangan ke tiga sekaligus yang paling besar. saya tidak tau pasti berapa besar sungainya sebab sedang dalam kondisi banjir sehingga airnya menggenangi sisi kiri dan kanannya. Penyeberangan mereka bilang dengan ponton, sekilas terlintas dalam fikiran saya adalah semacam ponton motor, tapi sesampai di pinggir sungai saya cukup kaget. Tali kapal yang panjang diikatkan dikedua sisi sungai, lalu seorang bapak sebagai sang nahkoda sekaligus kapten naik diatas ponton dengan memegangi tali tadi dan menarik ponton dengan berdiri diatasnya, bayangkan jika pegangan sang kapten lepas... Jadilah kami laksana semut diatas selembar daun yang hanyut ditengah-tengah sungai yang deras.

Sudah hampir dua jam lamanya saya terlunta-lunta ditengah perkebunan, sampailah saya disebuah pabrik minyak kelapa sawit. Saya berhenti dan mengecek signal GPS, dan Alhamdulillah... H+ muncul dan saya bisa langsung tau dimana posisi saya saat ini. Tidak berapa lama lagi saya akan sampai di jalan aspal, jalan lintas Simpang Ampek - Aia Bangis tepatnya di Air Haji. Namun menjelang sampai, jalanan semakin parah dan hancur persis seperti sawah yang siap untuk ditanami padi, lalu akhirnya saya sampai juga di peradaban. Selesai membersihkan diri, dengan semangat baru gigi empat saya pasang dan lansung meluncur menuju nagari Air Bangis.






Air Bangis adalah negeri terjauh di Ranah Minang yang terletak di pesisir utara Sumatera Barat yang berbatasan dengan Sumatera Utara. Itulah alasannya kenapa saya harus sampai disini. Terletak antara dua buah muara, dengan panjang bibir pantai sekitar sejauh tiga sampai empat kilometer. Pertama mencapai tempat ini saya langsung berada di pusat keramaian yaitunya di Taman Bisai atau Taman Air Bangis yang berada di tepi pantai. Jika berbelok ke kiri kita akan sampai di muara tempatnya kapal-kapal ikan berlabuh dan jika ke kanan adalah kawasan Tugu Air Bangis yaitu kawasan pantai dengan sususan batu-batu sangai yang besar dipinggir dan pemecah ombak. Selain itu terdapat juga wisata kepulauan yang menjadi andalan wisata disini yaitu kawasan Pulau Panjang dan Pulau pigago yang terletak tidak jauh dari bibir pantai Air Bangis. Sepertinya mirip-mirip dengan pulau-pulau di kawasan Wisata Mandeh di Padang, cocok untuk camping atau sekedar one day trip saja, namun karena tidak ada rencana untuk menyeberang jadi tidak banyak informasi yang saya dapatkan tentang tempat ini.

Hari sudah hampir pukul lima sore, setelah singgah sebentar di Taman saya langsung menuju kawasan Tugu, saya tidak tahu ini tugu apa (tugu laaagii... 😞), namun sepertinya tugu ini legent juga. Tidak jauh dari tugu sampailah saya di muara dimana dari sini tidak ada jalan lagi untuk diteruskan. Sebenarnya pantai disini cukup indah namun terlihat biasa saja karena mungkin mata saya sudah kenyang dengan pantai, atau mungkin juga karena mata saya lebih tertarik dengan warung-warung makan yang ada dipinggir pantai sebab dari tadi hanya cemilan dan permen-permen saja yang mengganjal perut saya. Lalu saya singgah di salah satu warung, niat hanya ingin memesan mie rebus, tapi saya lihat ada satu menu yang agak berbeda... Sop Kepiting. Yaudah, mie rebusnya gak jadi, saya pesan sop kepiting aja. Saya pun duduk kelesehan dan membaringkan badan melepas lelah sambil menunggu. Tak lama uni warungnya datang membawakan pesanan. Mata saya pun melotot melihat seekor kepiting besar dalam mangkok. Sempat kaget sebab seumur-umur saya belum pernah makan kepiting sebesar ini, terakhir saya makan kepiting waktu di pantai Padang sama si dia dulu hanya kepiting goreng tepung seukuran jari, eeh...di Air Bangis ini saya singgah diwarung biasa disuguhi kepiting seukuran mangkok, dan hanya dengan harga @Rp. 30.000 (plus nasi) emeijiing....! Menurut saya ini menu spesial yang khas, jadi jika anda berkunjung ke Air Bangis belum sempurna kalau tidak mencoba menu ini, sangat recommended.












Matahari semakin turun dan tidak lama lagi akan tenggelam di tengah samudera. Taman Air Bangis sore itu sangat ramai. Ingin sekali rasanya menghabiskan waktu disini menikmati sunset bersama masyarakat Air Bangis. Dengan berat hati mengingat perjalanan pulang menuju Bukittinggi yang masih jauh, ditambah beratnya perjalanan malam menggunakan sepeda motor melalui jalanan yang belum pernah saya lalui, sedangkan stamina terus menurun membuat saya harus bergerak secapat mungkin. Jam ditangan sudah menunjukkan hampir pukul enam sore, saya pun bergerak meninggalkan nagari Air Bangis.

Hari mulai gelap saat saya memasuki daerah Ujung Gading. Sholat maghrib dan isya saya niatkan jamak saja setelah sampai nanti. Mendekati pukul delapan malam saya sampai di kota Simpang Empat. Disini rute perjalanan yang semula saya rencanakan belok kiri kearah Talu, Panti, Lb. Sikaping dan terus ke Bukittinggi harus saya rubah karena tidak ada gunanya lagi berkeliling ke wilayah kabupaten Pasaman Timur. Saya lurus lagi kearah Kinali, melewati perbatasan Pasaman Barat - Agam sampailah saya di daerah Padang Sawah, dan disini saya akan berbelok ke kiri kearah daerah Kumpulan.

Mendengar nama Kumpulan yang terbayang oleh saya hanyalah tempat favorit para pecinta buru babi, ya..karena hanya itu yang saya tahu. Sayang saya akan melintas kedaerah ini dimalam hari sehingga tidak banyak yang bisa saya lihat. Saya berhenti dan mengamati mapping. Walau terlihat tidak rata sepertinya cukup banyak juga desa-desa di dalam sana, dan terlihat satu jalur tak berpenghuni berliku-liku panjang membelah bukit barisan. Seru apa seram...? Keduanya sama-sama menantang. Saya juga tidak mau nyasar disini, apalagi hari semakin malam dan tubuh saya sudah semakin lelah, lalu GPS pun saya aktifkan. Terlihat jarak tempuh sekitar 40 Km dengan waktu tempuh sekitar satu jam, dan dengan ditemani GPS yang selalu nyinyir disetiap persimpangan perjalanan saya lanjutkan.

Cukup jauh berkendara melewati pemukiman Si Boss nyinyir mulai tidak kedengaran lagi suaranya, ah mungkin dia sudah tidur. Tiap persimpangan saya berhenti mengecek arah dan akhirnya saya sampai di jalur perbukitan terjal. Sinar bulan yang setengah purnama cukup membuat penglihatan menjadi ramang-remang. Jalanan berliku-liku naik-turun disisi tebing terjal yang sangat tinggi. Mungkin tempat ini mirip Ngarai Sianok  atau Silokek di Sijunjung. Namun sayang karena malam saya tidak dapat banyak melihat dan mengenali tempat ini. Saya berharap jalan aspal yang tidak lebar ini lama-kelamaan tidak semakin menyempit. Seperti yang saya alami beberapa tahun lalu, ketika saya "terkubur" ditengah hutan saat mencari jalan pintas dari daerah Matur ke Sitingkai Batang Palupuh, dimana jalan semakin lama semakin mengecil, berubah semen, berlumut dan akhirnya berubah menjadi jalan tanah naik turun ditengah hutan, yang akhirnya saya keluar ke sebuah desa yang belum ada listrik. Tapi syukurlah sekali-kali saya masih bertemu mobil yang artinya jalan ini tidak akan mengecil. Lampu tinggi dan lampu rendah motor terus saya gonta-ganti dikarenakan jalanan yang naik-turun, dan tiap saat sinarnya menyinari dahan pohon-pohon besar yang rimbun di pinggir jalan. Mungkin jalanan ini seketika akan berubah menjadi rata seandainya terlihat ada kuntilanak berpakaian serba putih duduk disalah satu dahan pohon diatas jalan tersebut... 😃😄😀

Lewat pukul sepuluh malam sampailah saya di pertigaan jalan Kumpulan dengan jalan lintas Bukittinggi-Medan. Tak kusangka ternyata nagari kumpulan itu tidak hanya dipinggir jalan lintas saja tapi ternyata masih jauh dan luas kedalamnya. Saya kembali mengecek GPS, dari sini untuk sampai ke rumah orang tua saya di Kamang Bukittinggi masih ada sekitar 55 km lagi. Tubuh saya sudah terasa sangat lelah, dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan semangat yang yang tersisa saya pun kembali melanjutkan perjalan untuk menyelesaikan etape yang terakhir. Dan menjelang pergantian hari, tepatnya pukul 23:45 sampailah saya dirumah dengan selamat, Alhamdulillah... Selama perjalanan sepeda motor kesayangan yang sudah berusia delapan tahun ini tidak pernah mengalami kerusakan, saya sendiri juga tidak ada mendapat luka atau cidera, hanya saja handphone saya mengalami retak LCD karena terjatuh sewaktu diperjalanan.

Ini adalah rekor baru perjalanan terlama yang pernah saya tempuh dalam satu hari.
Waktu tempuh hari ini lebih dari 20 jam,
Dengan total jarak tempuh dari hitungan spedometer sejauh 527 Km.
Besok dari pagi sampai malam saya akan kembali menjadi musafir lagi untuk perjalanan kembali ke Markas Besar di perairan perbatasan Riau-Kepri...Futong Port.
Badan pun sudah tidak terasa seperti badan lagi.



Salam Lestari...!
m.iqlab@gmail.com



Rabu, 27 Desember 2017

Marapi Diakhir Tahun



Desember tanggal 29, dipenghujung tahun ini keindahan alam Air Terjun Nyarai telah mengobati kelelahan kami setelah seharian mengarungi belantara hutan Gamaran Lubuk Alung. Hari sudah mulai gelap kami pun sampai di pasar Lb. Alung dan segera melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi untuk mempersiapkan tracking berikutnya yang jauh lebih berat lagi, yaitu pendakian gunung terfavorit di Sumatera Barat...Gunung Marapi.

Setelah selesai mempersiapkan peralatan, perlengkapan, logistik dan segala sesuatunya kami bergegas menuju daerah Koto Baru, dengan harapan secepatnya bisa mencapai pintu rimba, biasa dikenal dengan BKSDA atau Pesanggerahan untuk mendirikan tenda dan istirahat, karena sudah lelah seharian kami pun tidak berniat untuk menaiki gunung di malam hari. 

Jam sebelas malam kami sampai di Posko Pendaftaran Gunung Marapi (kadang tempat ini disebut Tower, karena disini terdapat komplek tower Telkomsel). Disini motor harus diparkir dan dari sini membutuhkan waktu sekitar 45 sampai 60 menit jalan kaki untuk mencapai pintu rimba. Tapi mengingat malam yang sudah semakin larut kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, lahan kosong yang rata dibawah tower jadi shelter bagus untuk bermalam, disana sudah ada beberapa tenda pendaki lain, lalu kami pun segera mendirikan tenda disana dan istirahat mengumpulkan tenaga untuk pendakian besok pagi.

Para pendaki yang terus berdatangan entah dari mana saja, dari malam sampai pagi cukup membuat tidur terganggu, apalagi camp kami yang berada disamping parkiran. Setelah selesai masak, sarapan, beres-beres lalu packing, sekitar jam delapan pagi kami mendaftar ke posko. Informasi posko sudah ada sekitar dua ribu pendaki yang sudah mendaftar. Syukurlah kami naik dua hari sebelum pergantian tahun, kalau seandainya hanya sehari sebelumnya mungkin sudah tidak ada lagi tempat nge-camp yang manusiawi diatas sana.

Pendakian pun kami mulai... Ini adalah pendakian keempat saya di gunung ini. 
Buk bro, teman mendaki saya kali ini beberapa kali menatap cadas diatas puncak sana. Entah apa yang dia pikirkan, mungkin masih antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Selama ini Buk Bro adalah perempuan baik yang jarang keluar, tapi hari ini dia sedang berada dijalur pendakian di sebuah gunung. Pergi bersama saya mungkin adalah sebuah keputusan paling gila yang pernah dia ambil dalam hidupnya.

Mendaki gunung bukanlah soal mencapai puncak. 
Puncak dan keindahan alam yang menakjubkan adalah bonus yg kita dapat.
Mendaki gunung adalah soal perjalanan. Perjalanan yang panjang, medan pendakian yang sulit, beratnya beban yang kita pikul serta cuaca yang tidak bisa ditebak adalah tantangan yang akan kita hadapi.
Kekuatan phisik bukanlah yang utama, yang pertama adalah tekad dan semangat yang kuat.
Kesabaran akan ditempa, karena tanpanya kita akan mundur dan berbalik turun.
Kesombongan dan keangkuhan dalam diri kita harus dikikis habis jika ingin selamat selama pendakian, berapa banyak yang celaka hanya karena ucapan takabur sedikit saja.

Diatas sana semakin sulit situasi persaudaraan akan semakin erat, disaat kita kehausan orang yang hanya mempunyai segelas air akan rela berbagi walau dia tak tau lagi dimana akan menemukan air.
Dan terakhir kita harus tau tiga aturan dialam yang telah disepakati oleh para pecinta dan penggiat alam:
Pertama jangan ambil apapun kecuali photo
Kedua jangan bunuh apapun kecuali waktu
Ketiga jangan tinggalkan apapun kecuali jejak
Itulah sedikit penjelasan saya kepada Buk Bro untuk sekedar mengingatkan berhubung Buk Bro baru pertama sekali naik gunung.



Trek pendakian diawali dengan melewati ladang-ladang sayur masyarakat, setelah itu kami sampai di pintu rimba, disini banyak pendaki yang istirahat, mendirikan tenda atau hanya sekedar camping. Awal-awal pendakian trek terasa berat, nafas cepat habis, namun setelah melewati pintu rimba dan masuk ke hutan bambu (Parak Batuang) tubuh mulai menyesuaikan, nafas pun mulai teratur. Sapaan Pak..Bu..selalu terdengar setiap kali bertemu dengan pendaki lainnya. Ini adalah ciri khas pendaki Sumatera Barat yang setiap bertemu akan saling tegur sapa dengan panggilan Pak/Bu walau kepada pendaki yang masih tergolong anak-anak sekalipun. 

Singkat cerita sekitar jam tiga sore kami sampai di Pintu Angin, jalur yang mulai agak terbuka, suara riuh diselingi teriakan samar-samar mulai terdengar, itu artinya tidak lama lagi kami akan segera mencapai batas vegetasi. Jika ingin mendirikan tenda di tempat yang tertutup atau dilindungi pepohanan carilah lokasi ditempat ini. Tidak lama kami sampai di batas vegetasi dan terus menaiki cadas. Cadas adalah lokasi vaforit mendirikan tenda. Bunga Cantigi merah yang tumbuh memenuhi cadas akan menyambut kita sesampainya kita disini. Dari sini kita akan menyaksikan pemandangan kebawah yang menakjubkan. Gunung Marapi yang berhadapan Dengan gunung singgalang dan Tandikek menambah eksotisnya alam ciptaan Tuhan, apabila malam tiba hamparan hijau akan berganti dengan taburan cahaya kelap-kelip dari lampu-lampu dari rumah-rumah penduduk dibawah. Sungguh suatu pemandangan yang tidak akan ditemukan dibawah sana. Disini saya bertemu seorang saudara seangkatan disebuah Perhimpunan Penggiat Alam Terbuka, dan karena sudah duhulu beberapa hari digunung diapun menunjukkan kepada saya tempat mendirikan tenda yang bagus, mengingat cadas sudah dipenuhi oleh tenda-tenda para pendaki yang akan menyambut pergantian tahun diatas gunung.



Bersyukur cuaca seharian ini bagus dan pendakian kami berjalan lancar sesuai harapan. Setelah tenda berdiri kami pergi menuju sumber air untuk mengisi tempat air yang sudah kosong. Sangat disayangkan hari-hari seperti ini akan banyak pendaki-pendaki dadakan yang tidak tau sopan santun diatas gunung, ada yang cuci kaki disumber air bahkan malah ada yang ninggalin jejaknya (buang hajat) di sumber air, yang membuat kami harus naik keatas jalur air untuk mengumpulkan air yang ada di sela-sela batu. Hari semakin sore, awan mulai turun kebawah kami menutupi permukaan bumi dibawah sehingga terlihat seperti lautan dimana puncak gunung Singgalang dan Tandikek terlihat seperti pulau ditengah lautan, ditambah syafak yang memerahkan langit dan awan dilapisan atas membuat saya terus terdiam duduk diatas batu menikmati indahnya senja sampai-sampai membuat Buk Bro jengkel karana sedari tadi sudah capek berteriak-teriak mengajak saya untuk sholat maghrib yang waktunya sudah masuk dari tadi.






Secangkir kopi bandrek terasa sungguh nikmat didinginnya udara gunung yang menusuk tulang. Cadas Marapi dipenuhi nyanyian manusia-manusia gunung dari tenda-tenda mereka masing-masing. Suara teriakan yang bersahut-sahutan dari atas sana sampai kebawah, dari sebelah kiri dan kanan tak henti-hentinya terdengar menyumpal telinga. Entah apaaa saja yang diteriaki yang penting berteriak. Sepertinya ini adalah ciri kedua pera pendaki Sumatera Barat. Kami hanya duduk diatas batu ditemani cemilan dan kompor yang menyala untuk penghangat badan sambil menikmati indahnya pemandangan dan suasana malam dengan sesekali membalas teriakan orang-orang yang memenuhi cadas. Sementara Buk Bro masih agak tercengang-cengang melihat suasana dan prilaku manusia-manusia gunung yang mungkin sangat asing baginya. Malam semakin larut dan semakin dingin, kami masuk ketenda dan membungkus badan masing-masing dengan sleeping bag, teriak-teriakan warga cadas menjadi nyanyian sebelum tidur yang indah.... 

Suara alarm dipangkal telinga membuka paksa mata saya yang terekat. Dinginnya subuh yang semakin menjadi-jadi membuat jalan saya terseok-seok keluar dari tenda. Sungguh-sungguh tidak menyenangkan memulai aktifitas disuasana begini, tapi waktu terbaik untuk summit attack (menuju puncak) adalah adalah pagi-pagi buta begini supaya dipuncak dapat menyaksikan sunrise dan pemandangan yang sangat indah karena awan masih dibawah. Setelah sholat dan berkemas barang-barang yang diperlukan perlahan kami mulai menaiki cadas menuju puncak, jalur pendakian sudah mulai dipenuhi para pendaki. Disini kita harus hati-hati dengan teriakan dari atas "awas batu...! " karena itu tandanya ada batu yang jatuh dari atas, kebanyakan penyebabnya karena ada pendaki yang terburu-buru lalu keluar dari jalur untuk mendahului pendaki lain dan menginjak batu atau kerikil besar sehingga barjatuhan kebawah. Walau hanya sebesar telur ayam kampung tetapi jika kena tepat dikepala bisa membuat kepala bocor. 

Mendekati puncak embun mulai menyelimuti dan gerimis mulai turun, biasanya pagi-pagi cuaca terbuka dan cerah tapi kali ini sepertinya tidak menguntungkan. Para pendaki terlihat semakin bekurang dan terakhir hanya ketemu satu-satu. Kami terus naik sampai terlihat ada segerombolan pendaki berkumpul disuatu tempat, dan saya tau tempat itu adalah Tugu Abel (tugu untuk mengenang Alm Abel Tasman, pendaki yang meninggal dunia saat letusan gunung Marapi pada tahun 1992) itu artinya kami sudah samapi di puncak. Tidak lama kami sampai di lapangan bola (sebenarnya tidak ada yang main bola disini) yaitu sebuah tempat terbuka yang luas dan datar. Beberapa pendaki mendirikan tenda disini dengan menimpakan batu-batu besar kesekeliling tenda agar tenda tidak diterbangkan angin, terbayang saja bagaimana rasaya jika dihajar badai ditempat ini.




Kabut masih pekat dan gerimis masih turun, dari lapangan bola ini sudah tidak ada jalur lagi karena kita bisa melangkah kearah mana saja. Kami pun menyeberangi lapangan bola dan sampai ditempat yang menyerupai bukit kecil dan saya tau itu adalah tempat yang terpasang alat deteksi gempa, dan benar terlihat sebuah antena dan terdapat beberapa solar cell. Dari sini saya belokkan arah perjalanan kearah puncak Merpati dengan memutari kawah dan melalui punggung jurang menuju puncak merpati. Rencana saya setelah mencapai puncak Merpati kami akan menuruninya menuju Taman Edelweis.





Kabut masih tetap tidak berkurang, jarak pandang yang sangat terbatas membuat saya tidak bisa mengenali posisi dimana kami berada. Jalanan mestinya rata tapi tidak lama kami sampai di tempat yang menurun dan semakin menurun yang akhirnya terlihat bibir jurang di depan. Merasa saya salah ambil arah kami pun kembali ke lokasi alat deteksi gempa. Setelah memastikan arah puncak Merpati kami pun melanjutkan langkah. Tidak lama setelah berjalan dibibir jurang mestinya jalanan segera mendaki menuju ke puncak Merpati, tapi yang ada hanya datar saja bahkan cenderung menurun. Disini navigasi saya mulai errorrr... Sekeliling hanya putih yang terlihat, suara orang berbicara diselingi tawa dan teriakan masih terdengar tidak jauh dibalik tebalnya kabut didepan. Hati saya mulai was-was, saya lihat Buk Bro enjoy saja karena tidak tau apa yang saya rasakan. Karena saya tidak mengatakan apa-apa, Buk Bro mengajak untuk meneruskan perjalanan. Sebelum melangkah saya menyusun beberapa batu membentuk tanda panah sebagai penanda dan mengulanginya di setiap beberapa jauh kedapan.

Kami terus berjalan, jurang yang mestinya ada disebelah kanan sudah tepat ada disana, tapi jalanan yang seharusnya mendaki malah semakin menurun. Turunan ini mestinya ada setelah sampai di puncak Merpati,namun puncak Merpati yang saya tuju tidak kunjung ketemu. Keganjilan itu menghentikan langlahku. Buk Bro masih juga enjoy, namun sudah mulai membaca ada keraguan dalam hatiku. Mendengar suara obrolan-obrolan diselingi tawa dibalik kabut didepan Buk Bro kembali mengajak saya untuk melanjutkan perjalanan menuju arah sumber suara. Saya menatap arah sumber suara yang asalnya tidak bisa saya kenali karena mustahil dari puncak Merpati, dan taman edelweis pun tidak disana. Saya semakin was-was dan tidak percaya lagi dengan suara-suara itu.

Menyadari sudah tersesat saya mengajak Buk Bro kembali dan mengikuti tanda-tanda yang telah saya buat tadi. Beberapa tempat terlihat mirip dengan sebelumnya membuat saya merasa semakin ganjil, ditambah kompas yang tidak terbawa juga semakin membuat saya tidak yakin dengan arah yang ada. Beruntung beberapa tanda yang ada meyakinkan saya untuk mengikutinya, dan akhirnya kami sampai kembali pada lokasi deteksi gempa. Disini kami berhenti menenangkan pikiran dan mengingat-ingat arah datang pertama. Setelah yakin arah datang kami pun mulai melangkah kembali, tidak beberapa lama kami melihat beberapa pendaki didepan. Agak lega rasanya, setelah berbapasan dan tegur sapa saya bertanya arah lapangan bola, mereka menjawab terus saja kedepan. Mereka mengatakan juga akan menuju ke puncak Merpati dan saya hanya berpesan hati-hati jangan sampai nyasar karena kabut sangat tebal, sebab kami ini kembali karena tidak menemukan arah ke puncak Merpati. Sesampai dilapangan bola sesekali kabut terbuka dan kami langsung mencari arah turun. Setelah singgah sebentar di tugu Abel kami pun langsung menuruni cadas.





Sampai ditenda hari sudah siang, cuaca sudah berganti panas dan perut pun sudah mulai lapar. Kami segera membagi tugas, Buk Bro bagian memasak dan saya bagian makan... 
Tidak lama cuaca panas kabut tebal pun kembali menyelimuti diikuti rintik hujan yang semakin deras. Angin bertiup kencang dan hujan semakin deras. Sangat disayangkan saya lupa membawa plysheet (pelindung tenda bagian luar) sehingga air hujan merembes dan membanjir tenda kami. Ibarat sampan bocor kami pun sibuk menimba air dari dalam tenda menggunakan perasan kain selama badai berlangsung. Terikan-teriakan warga cadas pun mulai terdengar memilukan.. ada yang minta tolong, ada yang kebocoran, ada yang minta ampun, ada yang ingin pulang...tapi tiba-tiba semuanya malah pada tertawa terbahak-bahak..ternyata diatas sana ada tenda pendaki yang diterbangkan badai, sehingga saya pun ikutan tertawa. 

Badai akhirnya berlalu, Buk Bro terdiam panjang setelah melewati badai. Saya hanya tersenyum melihatnya sambil menyemangati untuk tetap bertahan. Sambil menunjuk kepada para pendaki yang terus berdatangan, mereka ada yg datang bawa tenda, ada yang bawa terpal, ada yg bawa plastik, bahkan ada yang hanya membawa sarung sama mantel yang sudah robek. Mereka yang datang dari berbagai usia, mulai kelompok anak-anak SD/SMP sampai orang dewasa, bahkan ada juga yang membawa anak yang masih balita. Dan banyak juga para pendaki yang datang dari luar provinsi seperti dari Riau dan Jambi plus satu orang bule.




Menjelang sore saya masih berpikir untuk kembali ke puncak sebab besok pagi tidak ada waktu untuk muncak lagi karena kami akan langsung turun. Rasanya tanpa melihat kawah dan taman edelweis pendakian akan terasa tidak sempurna. Setelah meyakinkan Buk Bro untuk naik lagi kami pun kembali menaiki cadas. Hujan badai siang tadi sudah membuat cuaca bersih dan pandangan jelas. Terlihat Buk Bro mulai bersemangat dan terkagum melihat wajah puncak yang tidak tertutup kabut lagi. Kawah dan puncak Merpati terlihat jelas, saya berhenti dan memperhatikan kembali kesalahan arah pagi tadi. Ternyata dari lokasi deteksi gempa menuju ke puncak Merpati yang dalam pikiran saya berjalan memutar ke kanan kawah ternyata telah meleset kekiri kawah sehingga jurang yang saya kira disebelah kanan itu adalah bibir kawah, dan sumber suara itu berarti asalnya di jalur Merpati menuju taman edelweis. Dapat pelajaran berharga pagi hari ini.





Kawah gunung Marapi, view dari dekat lapangan bola dengan latar Puncak Merpati


Mengingat hari sudah sore kami bergegas menuju dan sampai di puncak Merpati. Dari sini danau Singkarak yang luas hanya terlihat seperti sebuah telaga. Padang Panjang, Tanah Datar,  Solok dan Pariaman dengan lautnya terlihat jelas dari atas. Indahnya pemandangan dari puncak Merpati tidak membuat kami betah berlama-lama sebab waktu terus berjalan. Setelah puas selfie kami pun segera turun meninggalkan puncak Merpati menuju Taman Edelweis. Rute ke taman yang menurun mempercepat langkah kami.






Taman edelweis sebenarnya terletak diseberang jalur air yang membelah cadas setelah menuruni puncak menuju jalur turun kearah Batu Sangkar. Dari situ taman edelweis  membentang memenuhi bukit-bukit didepan, entah berapa jauh kesana sebab saya belum pernah melewati rute Batu Sangkar. Yang pasti taman bunga yang sangat indah ini bukanlah buatan manusia, semua ini adalah bentukan alam, hanya alam. Edelweis adalah bunga yang hidup ditempat tersulit disaat tidak ada satupun tumbuhan lain bahkan lumut pun tidak sanggup hidup. Apabila dipetik bunga ini tidak akan layu sampai bertahun-tahun. Inilah yang membuatnya dikenal luas walau sangat sulit ditemukan. Tapi sebenarnya ada tiga bunga yang hidup ditempat seperti ini, selain bunga edelweis yang dikenal luas ada juga bunga cantigi dan bunga padi. 

Beberapa kali terdengar Buk Bro mengucapkan puji Tuhan menyaksikan keindahan alam ciptaanNya. Sebelum jalur air juga sudah banyak ditumbuhi edelweis sehingga kami tidak menyeberang untuk melanjutkan ke tengah taman karena hari yang sudah semakin sore, dan kami tidak ingin kembali disaat gelap. Saya biarkan Buk Bro melanggar aturan dengan memetik beberapa tangkai bunga edelwis, namanya juga pendaki pemula. Selesai sholat ashar yang sudah diunjung waktu dan puas dengan selfie-selfie kami kembali menaiki cadas bergegas untuk kembali. Kesempatan menyaksikan sunset sudah tidak ada lagi, sebab kami berada pada sisi lain gunung tempat menampilkan sunrise.









Sampai di bibir kawah besar gunung Marapi kami berbelok ke kanan mengambil jalan kembali berbeda. Beberapa kali Buk Bro pergi ke bibir kawah yang besar mencoba untuk melihat dasar kawah yang jauh dibawah sana dengan diding vertikal 90 derajat namun tidak pernah berhasil. Keingintahuannya yang besar terkalahkan oleh pemandangan kedasar kawah yang sangat menyeramkan. Kami berjalan beriringan disamping kawah, saya hanya mengikuti Buk Bro dari belakang sambil senyam-senyum melihat tingkahnya dari belakang. Hari berangsur gelap, suatu ketika saat Buk Bro tengah asik berjalan tiba-tiba dia berteriak dan berlari menjauh. Ternyata jalan yang dilaluinya retak dan mengeluarkan asap. Saya pun berhenti dan memperhatikan jalan setapak dipingggir kawah tetsebut, ternyata memang sudah retak sejak lama, kepulan asap dari dasar kawah masuk kedalam celah-celah retakan dan sampai di telapak kaki Buk Bro sehingga membuatnya menghambur dan lari menjauh.

Melintasi lapangan bola dan mamasuki jalur turun ke cadas kami berhenti dan melaksanakan sholat maghrib. Hari sudah gelap bersyukur kami sudah di jalur turun ke cadas dimana tenda berada. Disini para pendaki sudah sangat ramai seperti pasar, jalur turun pun sudah dipenuhi manusia. Semakin turun semakin ramai, banyak tenda-tenda yang berdiri memakan separuh jalur karena sudah tidak ada lagi tempat untuk mendirikan tenda. Cadas marapi malam ini benar-banar dipenuhi manusia gunung. Riauh percakapan, nyanyi-nyanyian dan teriakan yang bersahutan bercampur jadi satu,  bahkan ada juga yang tartil membaca ayat suci Al-Qur'an. Cadas marapi pun sudah mirip seperti padang arafah.

Semakin malam para pendaki terus saja berdatangan, semakin mendekati tengah malam cadas semakin ramai dan semakin ribut. Menjelang pergantian tahun kembang api semakin banyak berterbangan ke udara, cahaya kembang api sekali-sekali juga terlihat dari puncak gunung Singgalang. Seperti malam sebelumnya kami hanya duduk makan minum diatas batu sambil menikmati suasana pergantian tahun. Setelah selesai detik-detik pergantian tahun cadas masih saja heboh. Entah sampai jam berapa kami sudah tidak sadar lagi karena sudah larut didalam sleeping bag didinginnya cadas.

Bangun disubuh hari, sholat dan langsung menyiapkan sarapan pagi. Jalur menuju puncak sudah seperti ular naga karena dipenuhi pendaki yang menaiki puncak untuk menyambut terbitnya matahari diawal tahun. Kelap-kelip cahaya senter mereka terlihat sampai jauh diatas, itu berarti cuaca cukup bagus. Sayang sekali kami harus segera bersiap turun secepatnya karena sampai dibawah saya akan langsung melanjutkan perjalanan ke Riau karena besok pagi tanggal dua harus masuk kerja. Selesai sarapan dan beres-beres hari sudah terang, kami pun menggulung tenda dan packing semua barang-barang. Setelah semua sampah dibersihkan dan dibakar kerel saya angkat lalu perlahan kami mulai menuruni cadas masuk ke jalur turun menuju rimba.



Menjelang siang kami sudah sampai di posko pendaftaran. Saya lihat Buk Bro masih dalam kondisi baik-baik saja, walau penampilannya sedikit acak-acakan seperti saya yang lebih acak-acakan lagi. Muka terasa setebal tembok, bibir pecah-pecah, kulit menghitam, kaki terasa mau copot dan seluruh tubuh terasa pegal. Tapi syukur Alhamdulillah tidak ada luka dan cidera. Setelah melapor ke posko gunung Marapi dan mengambil motor diantara ribuan motor yang diparkir sampai ke ladang-ladang kami pun turun menuju Koto Baru. Masjid Jami' Darussalam Koto Baru adalah masjid persinggahan para pendaki dan biasa digunakan tempat meeting point bagi pendaki-pendaki yang membuat kesepakatan mendaki bersama. Disini kami berpisah, Buk Bro melanjutkan perjalanan menuju Kota Padang dan saya dengan sisa-sisa tenaga dan semangat yang ada memacu motor menuju ke Pekanbaru Riau....